Barusan saya menonton berita tentang rencana DPR yang akan membangun gedung baru pengganti gedung Nusantara yang sekarang ini overcapacity dan (katanya) miring. Diharapkan, setelah rampungnya gedung baru kinerja anggota dewan meningkat.

Yang menjadi masalah buat saya adalah, apakah dana 1.8T sebanding dengan peningkatan kinerja yang diharapkan? Sebagai rakyat biasa yang tidak terlalu mengerti masalah politik, uang sebanyak itu bisa memperbaiki ratusan kilometer jalan yang rusak, mengganti ribuan kelas sekolah yang hampir roboh, atau menyediakan kebutuhan pokok yang makin mahal harganya.

Saya heran, mengapa di tengah-tengah kondisi yang serba tidak pasti ini –yang membuat kita bertanya, kepada siapa lagi kita harus percaya– muncul gagasan konyol dari para wakil rakyat, para penyambung lidah rakyat. Kepada siapa lagi kita harus percaya? Ketika wapres dipertanyakan karena terlilit kasus Bank Century, begitu pula menkeu, kita berharap banyak kepada anggota DPR untuk membongkar skandal ini. Masih layakkah DPR dipercaya?

  • MIE AYAM BASO “MAS PAIDI”, jalan Raya Banjaran (Rencong, Baleendah).
    Makan di sini bikin ngiler, mie ayamnya juara, pasti bikin ketagihan. Ayamnya & baksonya bagus. Harga per porsi Rp8000. Kalo pulang kampung saya pasti nyempetin makan di sini. Buka jam 10 – malem. Trivia: dulu MP mangkal di Pasar Dayeuhkolot, berhubung ada pembangunan Masjid Agung Dayeuhkolot pindahlah ke Rencong.
  • Bakso Rudal “WAJAH BARU”, alun-alun Banjaran depan Masjid Agung Banjaran. Buka jam 17 – tengah malam. Dari banyak tempat bakso di Banjaran, ini yang paling direkomendasikan. Harganya terjangkau, kualitasnya top. Apalagi kalo malam lagi dingin.
  • 1) Growing up is mandatory; growing old is optional.
    2) Forget the health food. I need all the preservatives I can get.
    3) When you fall down, you wonder what else you can do while you’re down there.
    4) You’re geting old when you get the same sensation from a rocking chair that you once got from a
    roller coaster.
    5) It’s frustrating when you know all the answers but nobody bothers to ask you the questions.
    6) Time may be a great healer, but it’s a lousy beautician.
    7) Wisdom comes with age, but sometimes age comes alone.

    1. Hooligan ngamuk gara-gara kereta terlambat

    2. Lampu stadion mati, pertandingan ditunda

    3. Kereta anjlok, suporter terlantar

    4. Tanpa cetak satu gol pun, Indonesia jadi juru kunci

    5. Penonton keluhkan kemacetan

    6. Timnas Brazil sulit cari tempat latihan

    7. Kisruh tiket, tifosi anarkis

    8. Wartawan sayangkan buruknya koneksi internet

    9. Kabut asap hambat pertandingan

    Itu sedikit dari sekian banyak hal yang harus diperbaiki, terutama jika Indonesia memang benar-benar serius ingin menggelar Piala Dunia.

    Jangan sampai judul-judul headline di atas terjadi.

    Stanza 1:

    Indonesia Tanah Airkoe Tanah Toempah Darahkoe
    Disanalah Akoe Berdiri ’Djadi Pandoe Iboekoe
    Indonesia Kebangsaankoe Bangsa Dan Tanah Airkoe
    Marilah Kita Berseroe Indonesia Bersatoe

    Hidoeplah Tanahkoe Hidoeplah Negrikoe
    Bangsakoe Ra’jatkoe Sem’wanja
    Bangoenlah Djiwanja Bangoenlah Badannja
    Oentoek Indonesia Raja

    Reff: Diulang 2 kali, red
    Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
    Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja

    Stanza 2:

    Indonesia Tanah Jang Moelia Tanah Kita Jang Kaja
    Disanalah Akoe Berdiri Oentoek Slama-Lamanja
    Indonesia Tanah Poesaka P’saka Kita Semoenja
    Marilah Kita Mendo’a Indonesia Bahagia

    Soeboerlah Tanahnja Soeboerlah Djiwanja
    Bangsanja Ra’jatnja Sem’wanja
    Sadarlah Hatinja Sadarlah Boedinja
    Oentoek Indonesia Raja

    Reff: Diulang 2 kali, red
    Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
    Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja

    Stanza 3:

    Indonesia Tanah Jang Seotji Tanah Kita Jang Sakti
    Disanalah Akoe Berdiri ’Njaga Iboe Sedjati
    Indonesia Tanah Berseri Tanah Jang Akoe Sajangi
    Marilah Kita Berdjandji Indonesia Abadi

    S’lamatlah Ra’jatnja S’lamatlah Poetranja
    Poelaoenja Laoetnja Sem’wanja
    Madjoelah Negrinja Madjoelah Pandoenja
    Oentoek Indonesia Raja

    Reff: Diulang 2 kali
    Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
    Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja.

    stan_035Jika kita berbicara tentang kampus yang ideal, tentunya pikiran kita akan mengerucut kepada tiga hal: bangunan secara fisik, fasilitas, dan lingkungan sekitar. Bangunan secara fisik, tentu saja menjadi hal pertama yang dapat dilihat dan diamati. Kita bisa bedakan sensasinya ketika melihat bangunan megah serta kokoh berdiri, kemudian menengok ke bangunan kampus yang temboknya terkelupas, catnya buram, dan kotor. Dari segi fasilitas, idealnya sebuah universitas memiliki sarana lengkap dari mulai ruang perkuliahan, laboratorium, perpustakaan, aula, hingga sarana olah raga yang memadai. Sedangkan faktor lingkungan adalah kenyamanan suasana, keteduhan, ketenangan dan enak dipandang mata.

    Mengacu kepada hal tersebut, kampus Ali Wardhana (kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) Jurangmangu, tampaknya jauh dari angan-angan. Kampus impian tersebut seakan bertolak belakang 180 derajat dengan keadaan kampus saat ini. Saya seakan tidak percaya ketika pertama kali menginjakan kaki di kampus Ali Wardhana, dan menemukan sebuah kampus sekolah calon birokrat. Tetapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa.

    Setelah saya perhatikan, ada fenomena menarik mengenai kampus STAN ini. Kampus Ali Wardhana begitu menyatu dengan alam. Beberapa gedung mempunyai warna putih kehijau-hijauan, lumut dan jamur berpadu dengan cat yang sudah lama. Tiang listrik berkarat, rawa-rawa, dan jangan lupa, sang maskot ‘kambing’ menghiasi sudut-sudut kampus STAN. Banyak kritik dilontarkan baik dari pihak mahasiswa maupun dari pejabat yang pernah berkunjung ke kampus Ali Wardhana. Benar-benar menyatu dengan alam.

    Pihak STAN bukannya tak acuh. Mereka yang beraktivitas di kampus ini juga menginginkan penyegaran. Alhasil, beberapa gedung baru dibangun dan taman-taman direhabilitasi. Gedung-gedung lama pun berdandan supaya menambah rasa ‘betah’ di dalam kampus. Tentu saja hal ini disambut baik oleh mahasiswa dan warga STAN pada umumnya. Kesan kumuh kini tak lagi kentara menghiasi kampus STAN. Tak lama lagi, beberapa gedung baru akan diresmikan dan disusul oleh rehabilitasi dan pembangunan sarana lainnya.

    Tapi hati-hati, pembangunan jangan kebablasan. Saya berpesan kepada pihak manapun yang bisa mempunyai kewenangan jangan sampai melupakan lingkungan. Jadilah kampus Ali Wardhana yang menyatu dengan alam, dalam arti ‘berwawasan lingkungan’. Jadilah kampus Ali Wardhana yang hijau, sejuk, dan ramah lingkungan. Sebarkan tempat sampah di setiap sudut. Tetap pertahankan pohon-pohon rindang nan teduh.

    Saya membayangkan apabila kampus ini menjadi hijau dan bersih, orang akan segan membuang sampah sembarangan. Tidak perlu lagi papan “DILARANG MEMBUANG SAMPAH DI SINI” yang ironisnya, ditancapkan di atas gundukan sampah. Jadilah kampus Ali Wardhana, Kampus yang Menyatu dengan Alam. Dalam arti berwawasan lingkungan.

    stan_036Hari gini, orang-orang pada susah mikirin kerja. Lulusan S1 belom tentu dapet kerjaan. Kalaupun dapet, nggak ngejamin hidup senang. Apalagi yang cuman lulusan SMA. Yang kerja pun sekarang lagi ketar-ketir. Buruh pabrik takut gajinya diturunin gara-gara SKB 4 menteri. Demo dimana-mana. Serikat buruh ini, serikat buruh itu turun ke jalan nolak SKB. Belom cukup disitu, ancaman PHK akibat krisis global makin menganga didepan mata.

    Lantas, kerja apaan dong yang enak? Yang namanya kerjaan mah kaga ada yang enak cing! Tapi kabar di jalanan mengatakan bahwa sekarang lagi rame-ramenya orang pengen jadi PNS. Iya, konon katanya kalo jadi PNS gaji terjamin, kerja ogah-ogahan tetep dapet duit, dan yang paling penting hari tua ga usah dipikirin, karena ada yang namanya dana pensiun. Ga heran kalo kemaren-kemaren banyak yang pada pengen daftar jadi C-PNS (padahal masih calon!). Malah beberapa orang kena tipu ama oknum yang ngejanjiin bakal jadi PNS asalkan bayar pelicin belasan juta! Buseet…

    Seenak-enaknya jadi PNS, tentunya PNS di Departemen Keuangan. Ga usah ditanya lagi, jadi pegawe di gudangnya duit negara pasti banyak tunjangannya. Dengan maksud mencegah dari tindak korupsi, tunjangan PNS di Depkeu berkali-kali lipat dari gaji seorang guru. Maka dari itu, ga salah kalo STAN (sekolahnya calon PNS Depkeu) jadi idaman. Ribuan orang ngantri daftar pengen dikuliahin di sana. Bukan cuman lulusannya yang dijamin kerja, tapi kuliahnya gratis! Kurang apa lagi coba?

    Tapi tunggu dulu. Yang bilang “STAN itu segalanya” bisa jadi salah. Emangnya apa enaknya jadi PNS? Buat orang-orang kreatif, bisa jadi PNS berarti “Penjara Negeri Sipil”. Orang jadi PNS, kerja sesuai ama tugasnya masing-masing, kaga boleh kesana kemari yang diluar wewenangnya. Tukang entrepreneur ga bisa ngebayangin kerja kaya ginian. Orang yang udah punya mental dagang lebih baik jangan jadi PNS. Dia bahkan bisa lebih makmur dari PNS. Modal dengkul doang, duit bisa ngocor. Tengok aja Bill Gates, Rupert Murdoch, atau yang deket-deket deh: Bakrie!

    Contoh paling cocok adalah Helmy Yahya. Doi jagonya bikin acara hiburan. Wajahnya saban hari muncul di televisi. Andalannya: kuis ama reality show. Acaranya laris manis ditonton pemirsa. Yang mungkin ente ga pikirin adalah, putra Sumsel ini lulusan STAN. Nah lo… Banyak lagi contoh dari temen-temen gue yang bilang bahwa yang drop out (DO) ternyata jadi rute kebebasan. Alhasil, jalan hidupnya ketemu di luar STAN.

    Satu yang pasti adalah, STAN jadi pilihan di antara pilihan yang harus diambil. Yang namanya pilihan, musti ngorbanin pilihan yang lain. Orang STAN ga berarti miskin kreativitas. Mereka hanya berkreativitas dengan amatir, bukan profesional. Selain itu, karena mahasiswa STAN adalah calon birokrat yang ngurusin uang-uang rakyat. Kampusnya pun merakyat. Ga di tengah kota, jauh dari keramaian. Lingkungannya pun jauh dari yang namanya elite. Kambing-kambing seliweran mah biasa. Musim hujan nenteng sepatu udah tradisi…hehehe…

    Selain itu, pakaian kuliah yang sederhana semakin disukai penduduk. “Orangnye baek-baek, kaga kaya di kampus laen. Pake seragam kaya gitu jadi ga keliatan banyak gaye…” Begitu katanya tukang warung nasi di deket kampus. Orang-orang yang kaya ginian harusnya yang duduk di atas-atas sono. Yang dijadiin pejabat ama pemimpin tuh bukannya yang disekolahin di luar negeri, dapet beasiswa, tapi kaga tau persoalan riil yang ada di masyarakat. Gimana bisa mimpin rakyat kalo sekolahnya dari SD ampe S3 di luar negeri, terus nyalonin jadi presiden.

    Makanya jangan kecil hati orang yang sekolahnya di dalem negeri (termasuk STAN). Presiden yang ideal itu adalah produk dalam negeri, ibarat kata “Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Orang-orang cerdas lulusan STAN harusnya mau bersaing dan pasti mampu bersaing lawan lulusan luar negeri. Jaman sekarang ga ada yang ga mungkin. Si Doel aja jadi tukang insinyur, anak Menteng jadi Presiden Amerika, siapa tau, taon 2029 RI1 lulusan STAN!